RSS

My poem

D I  B A W A H  B U K I T   P  A T  H U K

 

Mengawali hari, aku pergi menyusuri ciptaan ilahi

Aku berjalan tanpa henti

Aku melangkah dengan pasti

Sambil kutatap penuh arti

Jalan bagaikan ular melilit di pohon randu

            Tak kupikirkan suasana hatiku yang sedang pilu

            Hanya satu tujuanku

            Menemukan sesuatu yang baru

Setelah berada di pojok desaku berhenti

Kupandangi sekitarku dengan penuh misteri

Inilah, kudapatkan kedamaian hati

Di bawah Bukit Pathuk nan asri

S E M U T  M E R A H

Kala kupandang tanah

Kulihat barisan semut merah

Berjajar rapi tak bedakan yang kuat ataupun yang lemah

Berusaha, bekerja membangun rumah

            Bertemu saling menyapa

            Suka duka sama rasa

            Bergotong royong yang muda dan yang tua

            Beban ditanggung bersama

            Tak ada yang saling mencela

Kecil… kecil… kecil….

Itulah tubuhnya

Jangan remehkan kondisi fisiknya

Lihat kekuatannya

Karena dia hidup juga berkat sang pencipta

U N T U K M U  S M P  I

Dikota Wonosari engkau melaju

55 tahun sudah usiamu

Siswa- siswi berdatangan untuk menuntut ilmu

Dengan bimbingan bapak ibu guru

           Penerus bangsa datang silih berganti

           Bersaing mengejar prestasi

           Tak lupakan mengukir pribadi

           Tuk mencari jati diri

Tantangan dan rintangan bagaikan deburan alun

Kini engkau gigih membangun

Tahun demi tahun engkau semakin anggun

Kau ciptakan putra dan putri bangsa yang santun

           Aku siap mengharumkan namamu

           Aku siap menjadi penopang hidupmu

           Disepanjang waktuku

           Hanya untukmu SMP 1

 

BALADA SANG DUNIA

 

Melihat dan menoleh keatas sana

Mendengar dan merasakan betapa agung-Nya

Tetapi mengapa manusia tak dapat mengakui perbuatannya

Bahwa manusialah yang utama merusak paru- paru dunia

 

Sebutir bibit pohon dapat meringankan bebanmu

Menopang bumi tempat tinggalku

Seandainya aku ini dirimu

Akan kubalas semua yang telah melukaimu

Panas… panas dunia ini semakin lama semakin terasa

Bencana datang melanda dunia

Langit seakan marah membawa derita

Memperingatkan menusia merusak alam-Nya

Pepohonan hijau berganti pabrik bercerobong berasap hitam

Jalan raya dipenuhi kendaraan siang ataupun malam

Manusia tak hiraukan kondisi alam

Tak pikirkan anak cucunya dimasa depan akan kelam

PUISI

Hati menceritakan segalanya

Semua tertulis di dalamnya

Dengan kertas dan pena

Kucoretkan apa yang sedang kurasa

Puisi,

Senang dan duka

Terdapat didalamnya

Menandakan sebuah kesaksian nyata

Dalam hidup manusia

Puisi,

Kata- kata terukir indah, tersusun rapi

Bagaikan melodi di malam sunyi

Menandakan kalimat- kaliman indah menyejukan hati

Kawan

Seiring berjalannya waktu

Teriring doa nan merdu

Tak sempat kau menungguku

Kau pergi tinggalkanku

Hari yang kita lalui  bersama

Dihiasi suka duka canda tawa tangis manja

Pupus sudah termakan usia

Terkubur bersama lara

Kawan…

Seandainya kau disampingku

Kan kuukir bersama cerita kita

Diatas daun yang takkan pernah layu

Bersama tinta setia kasih tak terhingga

Dari kini hingga nanti

Kawan…

Istirahatlah dengan tenang jua temukan kebahagiaan

PADANG

Dua ribu Sembilan bumiku meradang

Gempa Sumatera Barat di Padang

Warga menangis tersedu sedang

Melihat korban berjatuhan

Rumah hancur porak poranda

Hidup penuh dengan trauma

                Reff : Hati gundah, putus asa

                           Hidup tiada artinya

                           Hati gundah , putus asa

                           Satu harapannya

Bertemu keluarga

Membuatnya bahagia

Hilang sudah keluh kesahnya

Tinggal selanjutnya

Menunggu tanyanya

Bagaimana dengan nasibnya

 

GLOBALISASI

Bersama hiruk pikuk desiran bising kota

Berpacu mengejar impian tercipta

Dari pelosok desa sampai ujung dunia

Bersemangat mencapai tujuan bersama

          Dahulu dan sekarang amatlah berbeda

          Teknologi dan informasi semakin mendunia

          Dari anak remaja dewasa hingga yang tua

          Memanfaatkan semua itu baik adanya

Globalisasi……

Bagai roda dunia melaju tak berbatas

Menerjang dunia yang keras

Bagaikan kupu- kupu yang terbang di langit lepas

Pengemis Jalanan

Beralas tikar berselimut semilir angin

Tidur merana di kolong jalan

Menunggu pagi membuka mata

Mengais rejeki menahan dahaga

Menerima cacian hinaan tak dihiraukan

Teguh tetap pada pendirian

Hanya untuk satu tujuan

Mendapat belas kasihan tuk menahan lapar

Tak bisa lagi yang bisa dilakukan

Hanya duduk meminta dan berpangku tangan

 

Bunda

Satu demi satu untaian kata

Sejuta kasih tak terhingga

Beribu bintang di langit sana

Satu kupetik untukmu  Bunda

Bunda,

Kau taruhkan nyawamu

Tuk lahirkan aku

Kau berikan waktumu

Tuk beri kasih sayang kepadaku

Jasa – jasa mu begitu besar bagiku

Kau rawat, kau didik, kau besarkan aku

Apa yang harus kuberikan kepadamu

Hanya kasih, cinta dariku untukmu

 

Sabar

Betapa sedih hati ini

Begitu malang nasib ini

Semua tinggalkanku

Hancur hatiku

                                       Sakit… sakit hati ini

                                       Perih… perih rasa ini

                                       Ingin ku berlari tanpa henti

                                       Tinggalkan kehidupan ini

Tapi walau begitu aku harus tetap percaya

Aku harus tetap setia

Menunggu sampai hari itu tiba

Aman hati di dada

Sobat

Sobat,

Kau berikan cahaya terang untukku

Kau berikan kehangatan untukku

Kala duka kau berikan semangat baru

Kala senang kau berikan senyuman untukku

Kau slalu sabar kala ku marah

Kau slalu tenangkan aku kala ku susah

Oh sobat, sampai kapanpun

Kau slalu jadi sobat terbaikku

 

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.